Kemampuan atau “kemauan” ?
Posted by: “Nurlinawati Yunus” nurlina_jambi@yahoo.com nurlina_jambi
Mon Dec 1, 2008 6:43 am (PST)
Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh
Posting seseorang (Syaikhul_Muqorrobi n@KL) dari milis lain, semoga ada manfaatnya..
Wassalamu’alaikum
Jawaban Sederhana Penuh Makna
Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus
tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang
sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik – rintik
selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.
Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,…terdengar suara
tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka
keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok
bakso setelah menanyakan anak – anak, siapa yang mau
bakso ?
“Mauuuuuuuuu. …”, secara serempak dan kompak anak – anak
asuhku
menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. … Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang – uang itu Emang pisahkan ? Barangkali ada
tujuan ?” “Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang
bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja,
Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang
menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita
– cita penyempurnaan iman “.
“Maksudnya.. ..?”, saya melanjutkan bertanya.
“Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan
sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian
sebagai berikut :
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari – hari Emang dan keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk
melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi
tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun
kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang
Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu,
untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian
hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan
sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung,
sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan
melaksanakan ibadah haji.
Hatiku sangat…… …..sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh
sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang
memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut,
belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu.
Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.
Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya memang
bagus…,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang
mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya….”.
Ia menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal
mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau
pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.
Definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk
mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan
diri sendiri
sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi
manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri,
“mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya
Allah akan memberi kemampuan pada kita”.
”Masya Allah…, sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso”.
Nurlina
‘Al hayatu fi dhzilalil quran ni’mah, laa ya’rifuHa illa man zaqqoHa’ (Sayyid Qutb)”