Cepsunardi’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Archive for the month “December, 2008”

Saya Tak Percaya Surga Ada di Telapak Kaki Ibu

oleh : Siska , Selasa, 16/12/2008 08:05 WIB (Eramuslim.com)

Hari ini hari ke-3 anak keduaku demam. Kalau sampai hari ini tidak turun juga besok harus di bawa ke dokter. Syukurlah sore tadi sudah lumayan reda demamnya. Pagi tadi suhunya masih 38 derajat C. Agak khawatir juga, soalnya minggu sore mulai demam, baru senin malam diberi obat, turun sebentar suhunya naik lagi. Senin pagi sampai siang malah tidak turun-turun, padahal pagi sudah di kasih obat turun panas. Siang dikasih obat lagi, turun sebentar naik lagi.
Duhh. Biasanya demamnya tidak lama. Paling sehari saja. Dan tanpa bantuan obat. Kata Abinya, “mau tumbuh gigi mungkin”. Tapi kok lama ya.. Nah dalam masa demam itu so pasti agak rewel, nangis terus, selalu minta gendong, malas makan dll dsb. Ditambah kakanya yang super aktif malah jahilin adiknya. Duh duh. Adik masih rewel, eh kakak BAB dan tidak mau dibersihkan kecuali sama Ummi. Adik ingin mimik sambil tidur, eh kakak malah guling-guling deket adik dan nendang-nendang. Adik teriak, “Oooooeeeeeee…” Ummi pusiiiiiiiiiiiiing Pppffhhh..
Kadang kesel dan mau meledak (memangnya kompor). Tapi hanya bisa gigit bibir n ngomel2 dalam hati. Kakak kan belum mengerti, dan Adik malah kasihan, dia juga sakit. Jadi terasa sekali kalau jadi ibu itu harus sabaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar. Seperti dikatakan dalam surat Az Zumar ayat 10 bahwa pahala sabar itu tanpa batas. “Katakanlah (Muhammad), “wahai hamba-hamba-Ku yang beriman ! Bertaqwalah kepada Tuhanmu”. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Alloh itu luas. Hanya orang-orang yang bersabar yang disempurnakan pahalanya tanpa batas” (QS 39:10) .
Tapi kita sering bilang sabar itu ada batasnya. Masa pahalanya ingin tanpa batas tapi sabarnya dibatasi. Curang dong ah ! Hanya saja tidak mudah (setidaknya untuk saya). Padahal anak baru dua, itupun masih kecil-kecil. Seorang temen yang anaknya empat dan sudah ada yang sekolah pernah berkata, “apalagi kalau sudah bisa membantah, ujiannya lebih”. Semoga Alloh menggolongkan saya sebagai orang-orang yang sabar. Makanya jadi saluuuuut pada para ibu yang telah berhasil membesarkan anak-anaknya dengan penuh kesabaran. Sungguh tidak ada apa-apanya dibanding diri ini yang baru 23 bulan jadi ibu.
Ditambah ibu-ibu jaman dulu belum menikmati fasilitas serba mudah jaman sekarang (air masih nimba, mencuci baju menggunakan tangan, menanak nasi manual, dll) Terutama untuk mama yang sudah sabar menjadi mama saya dan adik-adik saya. Sungguh saya kagum pada kesabarannya. Mama tidak pernah membentak, mencubit, memukul atau sekedar berkata kasar. Saya kadang jika sedang kesal sekali saya cubit bajunya kakak, atau diapersnya. Sekedar pelampiasan.
Saya selalu ingat pesan mama, “jangan mulai mencubit pada anak, nanti ketagihan” Saya punya adik yang rewel kalau sakit, bahkan sampai besar. Jika sakit ingin ditemani terus. Ada juga yang kalau sakit ingin dimasakin ini itu. Sampai sekarang saya tidak punya kenangan jelek tentang mama. Malah saya ingat pernah membuat mama menangis (maaf ya ma…) Jadi sekarang saya benar-benar introspeksi diri dan mengukur seberapa besar hati dan kesabaran saya. Lewat anak-anak, saya bisa melihat seberapa layak saya disebut ibu yang penyabar (dan ternyata masih sangat jauuuuuh).
Lewat mereka pula, saya bisa melihat bagaimana repotnya mama mengurus saya dan adik-adik. Betapa saya semakin cinta terhadap anak-anak, mama dan mamanya suami. Serta semakin kagum pada seluruh bunda di dunia. Jadinya saya tidak percaya kalau surga itu ada di telapak kaki ibu. Karena saya percaya jika surga ada di setiap senti tubuhnya. Depok, 101208

Kemampuan atau “kemauan” ?

Jawaban sederhana penuh makna

Posted by: “Nurlinawati Yunus” nurlina_jambi@yahoo.com   nurlina_jambi

Mon Dec 1, 2008 6:43 am (PST)

Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh

Posting seseorang (Syaikhul_Muqorrobi n@KL)   dari milis lain, semoga ada manfaatnya..

Wassalamu’alaikum

Jawaban Sederhana Penuh Makna
 

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus
tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang
sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik – rintik
selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.
 
Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,…terdengar suara
tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka
keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok
bakso setelah menanyakan anak – anak, siapa yang mau
bakso ?
 
“Mauuuuuuuuu. …”, secara serempak dan kompak anak – anak
asuhku
menjawab.
 
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. … Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
 
“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang – uang itu Emang pisahkan ? Barangkali ada
tujuan ?” “Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang
bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja,
Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang
menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita
– cita penyempurnaan iman “.

“Maksudnya.. ..?”, saya melanjutkan bertanya.
 
“Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan
sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian
sebagai berikut :

1.      Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari – hari Emang dan keluarga.
 
2.    Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk
melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi
tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun
kambingnya yang ukuran sedang saja.
 
3.    Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang
Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu,
untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian
hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan
sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung,
sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan
melaksanakan ibadah haji.
 
 
Hatiku sangat…… …..sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh
sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang
memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut,
belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu.
Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.
 
Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya memang
bagus…,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang
mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya….”.
 
Ia menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal
mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau
pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.
Definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk
mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan
diri sendiri
sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi
manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri,
“mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya
Allah akan memberi kemampuan pada kita”.
 
 ”Masya Allah…, sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso”.

Nurlina
‘Al hayatu fi dhzilalil quran ni’mah, laa ya’rifuHa illa man zaqqoHa’ (Sayyid Qutb)”

 

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.